Merajut itu Mencandu

Merajut itu mencandu. Itulah mengapa merajut menjadi menyenangkan. Awal ketika belajar memang agak sulit. Tetapi sekali bisa, rasa penasaran itu akan menguasai, apalagi ketika gulungan benang itu sudah berubah menjadi syal atau apa pun yang saya bayangkan dan inginkan. Rasa amazing itu akan menyeruak. Ajaib, benang yang awalnya bukan apa-apa itu ketika terjalin dengan baik berubah menjadi sesuatu, sesuatu berupa syal, sarung tangan, bolero, kardigan, sweater, sepatu bayi, topi, dan banyak lagi sesuatu yang lainnya yang bahkan sebelumnya tidak pernah terpikir bisa dibuat dengan rajutan.

Rasa amazing dan kelegaan luar biasa itu yang menghilangkan rasa pegal di punggung dan leher dan kaku-kaku pada sepuluh jari tangan ketika bangun tidur, kepala berkerut-kerut dan pusing ketika membaca pola, dan banyak hal lainnya. Semua keluhan tersebut sirna ketika hasil rajutan selesai.

Ada banyak alasan yang membuat kita menjadi tergila-gila merajut. Sebagian besar perajut mengatakan bahwa mereka merasakan ketenangan dan menjadi santai ketika merajut. Saya juga merasakan demikian. Saya bisa mengabaikan segunung cucian atau setrikaan demi merajut yang kadang kala bisa menuai omelan juga dari si honey karena saya sudah keasyikan merajut. Saya bahkan secara sadar rela tidur malam bahkan begadang hanya untuk merajut sambil ditemani menonton film. Kegiatan mengulang-ulang tusuk secara bergantian, tusuk atas, tusuk bawah, dan seterusnya melatih fokus kita sehingga kita bisa lebih berkonsentrasi ketika mengerjakan sesuatu.

Bahkan Elizabeth Zimmerman, salah satu dedengkot perajut dunia menahbiskan dirinya sebagai opionated knitter alias (yang boleh ya saya terjemahkan menjadi) pecandu rajutan. Dan memang benar merajut itu mencandu.

Candu lainnya adalah mengumpulkan benang. Karena merajut berarti membuat sesuatu dari gulungan benang. Di luar sana ada banyaaaak sekali benang yang bagus dan lucu yang menunggu pembelinya untuk membuatnya menjadi sesuatu. Bahkan saya pernah melihat di blog milik pengasuh website dan milis merajut Indonesia, Mbak Dyah Dyanita, dia menggambarkan otak para perajut itu adalah benang. Saya langsung nyengir ketika melihatnya karena itu juga memang yang ada di banyak kepala para perajut. Tanyakan pada mereka koleksi benangnya, pasti bejibun. Mereka bahkan rela menyisihkan banyak uangnya demi bisa membeli benang-benang yang mereka inginkan.

isi otak perajut diambil dari www.dydyknits.wordpress.com

Saya pernah membaca ada sepuluh alasan mengapa merajut itu merupakan kegiatan yang menyenangkan. Saya menerjemahkannya secara bebas dari artikel yang ditulis oleh Olivia Gordon dan dimuat dalam www.allaboutyou.com

  1.  Gampang dan sederhana. Merajut hanya perlu segulung benang dan sepasang stik dan dengan keduanya kita bisa menciptakan keajaiban. Merajut adalah kombinasi dari tusuk permulaan, tusuk atas, tusuk bawah, tusuk melingkar, dan tusuk penutup. Sementara variasi tusuk lainnya yang sekarang amat banyak itu hanya kombinasi cerdas dari tusuk dasar yang harus dikuasai tersebut.
  2. Memacu Kreativitas. Biasanya para perajut sering memulai projek baru sebelum menyelesaikan projek yang lama, bahkan projek baru lebih cepat selesai daripada projek yang lama. Untuk benang-benang tertentu kadang kita menunggu inspirasi hendak dijadikan apa benang tersebut. Merajut menjadikan kita kreatif karena secara tak sadar, otak kita mengajak untuk mencoba ini dan mencoba itu, sepertinya ini akan cocok jika dijadikan itu. Secara kreatif kita memodifikasi pola yang sudah ada bahkan banyak pula yang membuat pola sendiri. Berkaitan dengan benang, saya sih meyakini bahwa setiap benang yang saya beli, meskipun belum dibuat menjadi apa pun, dia punya takdirnya sendiri akan jadi apa nantinya.
  3. Membuat Tangan Kita Tetap Sibuk. Meskipun terkesan sepele dan tak perlu tenaga besar untuk merajut, tapi tahukah Anda sebenarnya merajut dengan kecepatan tinggi atau dengan tensi yang rapat atau dengan menggunakan stik dan benang yang berat itu sama dengan melatih otot tangan, bahu dan punggung, sampai ketiga bagian tersebut terasa pegal. Setelah merajut secara marathon kita bisa merasa otot menjadi lebih kencang dan padat. Dan hal yang terpenting sibuk merajut akan menjauhkan kita dari ngemil pada sore hari sehingga pinggang tetap ramping (hihihi memang ada hubungannya, ya). Sibuk merajut, membuat lupa ngemil.
  4. Menghadiahkan Sesuatu Menjadi Menyenangkan. Dengan merajut, kita bisa memberikan sesuatu untuk orang-orang yang kita cintai atau sahabat-sahabat kita secara lebih personal dan istimewa karena itu buatan tangan kita sendiri.
  5. Merajut, teman baik dalam Menonton Televisi/Film. Merajut sambil menonton acara televisi atau sambil menonton DVD, itu adalah hal yang paling menyenangkan. Tanpa disadari hari bisa berlalu dengan cepat dan rajutan kita pun segera selesai. Tentunya ini bisa dilakukan jika pola rajutan tidak terlalu rumit karena jika terlalu rumit, rajutan bisa berantakan, bahkan yang ada bisa saja acara televisi atau bahkan film yang sedang ditonton, tidak lagi menarik karena kita sudah terlalu fokus dengan pola rajutan .
  6. Memberi Kepuasan Tersendiri. Sangat mudah untuk tergiur dengan benang-benang yang indah dan berharga mahal, tetapi jika cerdas berburu benang, ada banyaak sekali benang dengan harga yang lebih murah, tetapi bagus, yang bisa kita ubah menjadi “sesuatu” yang juga sebenarnya bisa ditemukan di toko, tetapi keduanya punya nilai yang berbeda (meskipun bisa saja dari segi harga, bisa jadi tidak terlalu mahal juga dan kita tidak perlu lagi capek-capek merajut), tetapi memberi dengan buatan tangan sendiri, memiliki efek yang berbeda, baik bagi kita sendiri, maupun bagi orang yang kita beri karena ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa digambarkan ketika berhasil menyelesaikan satu projek.
  7. Membuat Otak Tetap Aktif. Jika belum pernah membuat pola atau mengubah pola, cobalah. Dari sana kita akan mulai berkenalan dengan matematika rajutan. Kita akan mulai belajar menghitung tensi rajutan, jumlah tusuk, dan semua hal yang berkaitan dengannya. Hal itu membutuhkan konsentrasi tinggi, perhatian terhadap detail, daya imajinasi, dan koordinasi mata dan tangan dalam membaca berbagai pola. Jangankan membuatnya, membaca pola yang ada pun juga sudah seperti itu. Itu akan membuat otak kita menjadi aktif karena dia mau tidak mau harus terus berpikir untuk menerjemahkan pola itu ke bentuk nyatanya di rajutan. Selain itu, kita pun akan terus penasaran untuk belajar lagi berbagai teknik-teknik yang “ajaib” dalam merajut. Dalam komunitas merajut, kita bisa berbagi pengalaman dan mengajarkan orang lain untuk belajar merajut. Semakin sering kita mengajar, kita pun akan semakin tertantang untuk belajar lebih banyak lagi.
  8. Sangat Perempuan. Merajut itu sangat perempuan dan feminin, meskipun ada juga perajut laki-laki. Tetapi perempuan lebih tertarik untuk belajar merajut daripada laki-laki. Dan perempuan yang bisa merajut bisa dibilang punya pesona tersendiri ketika dia merajut di ruang publik, seperti ketika sedang menunggu, di dalam angkutan umum, di stasiun kereta, di bandara atau tempat umum lainnya.
  9. Selalu Membuat Kita Belajar. Teknik merajut bisa dibilang ibarat bintang di langit karena sangat banyak dan selalu ada yang bisa dicoba dengan merajut. Jenis tusuknya sangat banyak ragamnya dan membuat kita penasaran untuk mempelajarinya. Kita terus diajari untuk memelihara rasa ingin tahu dan tidak cepat puas dengan teknik yang sudah dimiliki. Kita juga jadi belajar tentang bagaimana kombinasi warna yang baik yang ketika benang beraneka warna tersebut dirajut, kita dikagetkan dengan hasilnya. Tidak cepat menyerah, juga menjadi pelajaran penting dalam merajut karena merajut butuh kesabaran, apalagi jika kita melakukan kesalahan dalam merajut, kita harus bertabah hati dan berani untuk menguraikan benang yang sudah terajut tersebut untuk mendapatkan hasil seperti yang kita inginkan.
  10. Menenangkan. Merajut itu juga menenangkan, melatih kesabaran, dan membuat kita menjadi santai. Merajut juga berarti berdiam sejenak atau bertenang diri di tengah hiruk pikuknya suasana. Coba saja, ketika kita merajut di ruang publik, ruang yang semula ramai, seolah-olah berubah menjadi tenang jika kita sudah tenggelam dalam kegiatan merajut. Intinya, merajut jangan menjadi sesuatu yang harus diburu-buru karena memang dalam prosesnya kegiatan ini membutuhkan kesabaran dan kecintaan ketika melakukannya.

Dari sepuluh alasan tersebut saya ingin menambah satu lagi alasan mengapa merajut itu menjadi mencandu. Merajut membuat kita banyak teman. Keakraban itu muncul begitu saja begitu mengetahui bahwa kita memiliki hobi yang sama. Dan kita pun berbagi informasi apa saja mengenai merajut. Bahkan sering pula, sesama perajut mengadakan acara kumpul bareng untuk merajut bersama-sama di satu tempat tertentu. Bahkan ada pula yang sengaja berkumpul dan mengunjungi satu daerah tertentu untuk berwisata benang.

Tidak sekadar senang-senang, merajut juga bisa menjadi kegiatan amal kita. Salah satu contohnya, ketika terjadi bencana di Yogyakarta, tidak sedikit para perajut yang berinisiatif untuk membuatkan sesuatu bagi para pengungsi. Tanpa dikomando oleh siapa pun mereka saling berkoordinasi untuk berbagi.

Dikutip dengan penyesuaian seperlunya dari buku Teknik Merajut dari Penerbit Dunia Kreasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s